Sepulang berkemah di kawasan Puncak, Cianjur,
Tono-nama samaran-didera nyeri kepala berkepanjangan.
Beberapa butir obat penghilang pusing ditelan, tapi
nyeri itu seolah ajek. Kejadian 4 tahun silam itu
diikuti munculnya benjolan sebesar telur puyuh di leher.
Lita-sang ibunda-yang takut terjadi sesuatu segera
membawanya ke Rumah Sakit Pluit di Jakarta Utara. Di
sana dokter memvonis anak saya kena kanker nasofaring,
tutur Lita.
Kabar mengejutkan itu sontak membuat semua persendian
Lita terasa lemas. Ia benar-benar tak menduga anak
sulungnya didera kanker. Ketika itu saya hanya bisa diam
dan menangis. Saya merasa kasihan, ujar Lita. Saat palu
vonis itu diketuk, Tono baru saja merayakan kelulusannya
dari Sekolah Menengah Pertama. Ia memang mengisi waktu
liburan dengan berkemah sambil menunggu pengumuman
penerimaan dari sebuah Sekolah Menengah Atas di kawasan
Jakarta Barat.
Benjolan itu tidak sengaja didapati. Rambut Tono yang
panjang sebahu membuat benjolan itu tertutup. Herannya
dia sendiri tidak merasa ada benjolan itu, ujar Lita.
Maklum dengan bobot sekitar 80 kg, leher Tono tampak
penuh lipatan kulit. Benjolan itu tampak setelah sang
ayah mencukur rambutnya. Lo kok ini ada benjolan, ujar
sang ayah seperti dituturkan Lita.
Saran dokter untuk melakukan biopsi-pemeriksaan
jaringan hidup-membuat Lita ketakutan. Saya sering
dengar biopsi menyebabkan kanker menyebar dan lebih
ganas, ujarnya. Merasa tak puas, kelahiran
Bangka-Belitung 45 tahun lalu itu mengecek Tono ke RS
PGI Cikini di Jakarta Pusat. Kesimpulan sementara sama,
perlu dilakukan biopsi.
Melalui bantuan kerabat dekat, Lita pun mengunjungi
dokter spesialis kanker di bilangan Rawamangun. Setelah
di CT Scan, dokter hanya bilang anak saya memang
terkena kanker nasofaring stadium 1, ujarnya. Lita pun
kembali dirujuk melakukan biopsi di RS Kanker Dharmais
di Jakarta Barat.
Pengobatan alternatif
Pilihan biopsi sangat tidak diinginkan Lita. Setelah
berembug bersama suami, Lita mencoba mencari pengobatan
alternatif. Saya mendengar ada yang bisa menyembuhkan
dengan pijitan di Sukabumi, ujar Lita. Tanpa pikir
panjang, ia pun membawa Tono yang masih bisa
beraktivitas normal ke sana. Sebulan pengobatan
berjalan, hasilnya nihil. Benjolan itu malah tampak
sedikit membesar.
Sebagai gantinya pengobatan herbal dipilih. Seorang
pengobat di Kelapagading, Jakarta Utara, dikunjungi.
Menurut sang pengobat, Tono harus meminum berbagai
ramuan herbal. Salah satu di antaranya benalu teh.
Sebungkus benalu itu dicuci bersh lalu direbus dalam 3
gelas air hingga mendidih dan tersisa segelas. Setelah
dingin, air rebusan disaring untuk diminum 3 kali sehari
masing-masing 1 gelas. Setelah 2 minggu mengkonsumsi
belum ada perubahan, malah batuk darah dan mimisan, ujar
Lita.
Tak kunjung membaik, dokter spesialis kanker di
Rawamangun didatangi kembali. Kini apa pun yang
disarankan dokter itu diterima. Dokter menyuruh ke
Dharmais untuk menjalani terapi pengobatan, ujar Lita.
Di sana Tono mesti menjalani kombinasi pengobatan dengan
penyinaran dan kemoterapi. Katanya perlu 32 kali
penyinaran sampai sembuh, ujar Lita.
Perubahan terjadi saat menjalani penyinaran ke-15.
Tiba-tiba Tono didera rasa sakit yang amat sangat di
pinggang. Tak tega melihat kondisi itu, Lita pun meminta
dokter memberi obat penghilang rasa sakit. Obat itu
diberikan lewat mulut dan dubur. Ia hanya efektif selama
12 jam setiap kali pemberian, tutur Lita.
Rasa sakit Tono membuat dokter curiga. Lita pun
disarankan memeriksa Tono kembali. Hasilnya memang
mengejutkan. Kanker itu sudah menyebar sampai pinggang.
Dokter memutuskan Tono perlu menjalani 14 kali
penyinaran lagi di bagian pinggang.
Saat itu kondisi Tono sudah jauh menurun. Bobotnya
menyusut 30 kg, kulitnya kusam, dan rambutnya rontok.
Air ludahnya kering, wajahnya menghitam, gusinya
pecah-pecah sampai keluar darah, dan semua kaki
tangannya bengkak, kata Lita.
Minum spirulina
Ketakutan kanker itu menyebar terbukti. Tak hanya di
pinggang, tulang ekor pun kini digerogoti kanker. Tono
mesti menjalani 17 kali penyinaran lagi. Dokter yang
menanganinya mewanti-wanti agar kakak Lita tidak
menginformasikan soal harapan umur penderita kanker.
Dokter menyebutkan dengan kondisi itu usia Tono
diperkirakan tidak sampai 3 bulan lagi, ujar Lita meniru
ucapan sang kakak. Sambil terus menjalani terapi
penyinaran, Lita meminta izin agar Tono diperbolehkan
pulang. Saat itu Lita mengaku pasrah. Saran sepupunya
untuk membawa Tono berobat ke Singapura ditolak secara
halus. Biarlah saya merawatnya semampu saya, ujar Lita
yang saat itu hanya bisa memberi asupan susu formula
pada Tono.
Menjelang Natal pada 2002, teman dekat suami
memintanya mencoba memberi spirulina. Siapa tahu bisa
membuat badan anakmu sedikit kuat, tutur teman itu
memberi beberapa sachet spirulina. Kebetulan pula
spirulina cair itu berasa stroberi. Anak saya paling
suka rasa stroberi jadi agak gampang memberinya, ujar
Lita.
Spirulina itu diberikan rutin 3 kali sehari. Awalnya
tubuh Tono seakan menolak. Saat diminum, tak lama cairan
itu dimuntahkan lagi. Namun setelah mencoba 3 kali,
tubuh Tono pun bisa menerima. Dua minggu mengkonsumsi
tanda-tanda perubahan mulai terlihat. Kulitnya mulai
kelihatan segar. Nafsu makannya timbul lagi, ujar Lita.
Hampir 4 bulan rajin mengkonsumsi, kondisi Tono
berangsur-angsur membaik. Wajahnya yang tadinya hitam
mulai memutih kembali. Yang menggembirakan Lita, Tono
sudah bisa berjalan normal meski agak tertatih-tatih.
Kakinya masih sedikit bengkak, ujar Lita.
Setahun berlalu, Tono sudah tampak segar bugar.
Bobotnya kembali normal seperti sediakala. Ia masih
merasa cepat lelah saja, ujar Lita yang hingga kini
terus mewajibkan Tono meminum 1 sachet spirulina setiap
hari. Sekolahnya dulu sempat berhenti selama setahun
sudah diteruskan kembali. Kalau lihat dia sekarang, saya
kadang menangis karena tidak menyangka dia bisa membaik,
tutur Lita.
Terbanyak ke-4
Merujuk data National Cancer Institute di
Amerika Serikat, kanker nasofaring banyak terjadi pada
ras Mongoloid yang tersebar di negara-negara Asia
seperti Cina, Hongkong, Malaysia, Singapura, bahkan
Indonesia. Kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung
hingga menyebar ke kelenjar leher dan otak itu bisa
diturunkan secara genetis.
Menurut Profesor Dr Karmel L Tambunan dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, kanker nasofaring kini
menjadi salah satu kanker yang banyak penderitanya di
tanahair. Penyebabnya diduga virus epstein barr.
Virus itu juga ditemukan pada penyakit lain seperti
herpes, ujar spesialis darah yang juga mendalami kanker
itu. Salah satu pemicunya adalah makanan yang diawetkan
dengan garam atau diasapkan.
Dalam paparan mengenai penyakit-penyakit kanker, Dr
Gustav Quade dari Institute of Medical Biometry,
Informatic and Epidemiology Universitat Bonn di
Jerman menyebutkan pada stadium awal serangan kanker
nasofaring tidak memberi gejala khas. Yang sering tampak
hanya telinga berdenging, hidung mimisan atau tersumbat
seperti pilek terusmenerus di salah satu sisi. Bila
semakin parah, di leher, misalnya, akan tampak
pembesaran getah bening yang terlihat seperti benjolan
yang dialami Tono.
Satu-satunya pengobatan kanker yang bisa dilakukan
dengan menjalani radioterapi dan kemoterapi, ujar
Karmel. Pengobatan yang dilakukan pada Tono itu menurut
Karmel sudah tepat. Meski demikian ia belum bisa menduga
peran spirulina yang membuat kondisi Tono membaik.
Mungkin membantu memperbaiki daya tahan tubuh saja,
ujarnya. (Dian Adijaya S)